Beberapa hari yang lalu saya dicritani sama seorang teman di YM (sensor
) yang mengeluh karena template buatannya yang sudah dibuat sedemikian bagus ternyata tidak cocok di mata klien. Kliennya malah minta template yang menurut dia dan saya jauh dari bagus dan layoutnya bisa dibilang amburadul dan jadul..hehehe..
Bagi seorang developer tentu hal yang paling mengesalkan adalah apabila aplikasi yang kita buat ternyata tidak cocok dengan selera konsumen padahal maunya kita ngasih ide dan konsep yang bagus, ternyata ekspektasi dari klien malah lebih rendah dari perkiraan kita. Sebagai developer tentunya kita nggak rela jika hasil karya kita dianggap kalah bagus dari konsep lain yang menurut kita lebih rendah kualitasnya.
Itulah Idealisme
Sementara di dunia nyata ini, kita tidak sendiri. Kita tidak bisa hanya mengikuti selera kita sendiri. Sama seperti saat kita membuat web, tentunya kita harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar luas. Jangan hanya mementingkan selera pribadi. Karena web tanpa pengunjung tidak ada artinya, dan gimana mau berkunjung kalau pengunjung tidak menemukan yang dicarinya di web anda
Itulah Realita
Idealisme terkadang harus kita korbankan untuk menyesuaikan dengan Realita, karena jika tetep keukeuh dengan Idealisme kita maka Insya Allah dapur kita tidak akan ngebul..hehehe.. Apalagi Idealisme itu berkaitan dengan pekerjaan.
Kemudian saya juga teringat dengan teman-teman Alumni STT Telkom yang punya idealisme bisa dibilang sangat keterlaluan. Mereka tidak mau kerja kalau tidak di Telkom dan Telkomsel!!! Bagi saya idealisme seperti itu tentu sangat tidak rasional. Mereka hanya terkungkung pada pemikiran tertentu dan tidak mengembangkan pikirannya untuk kemungkinan lainnya. Alhasil banyak alumni seperti itu yang masih nganggur, padahal pilihan pekerjaan di bidang telco saat ini sudah sedikit dibanding waktu saya lulus kuliah. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa yang ingin masuk perusahaan besar sekelas Telkom tidak hanya dia tapi mungkin ada ribuan pengangguran lainnya yang juga berpikiran yang sama. Ya! Idealisme kadang bisa melupakan Realita.
Karena itu pilihan ada pada diri kita. Terkadang Idealisme harus tetap kita miliki, tetapi untuk kasus lain maka kita harus menyesuaikan dengan Realita.







pertama yah …
emang sapa yah? yg idealis kek gt? … g mau kerja kalo nggak di telkom ato telkomsel
*garuk2 kepala sambil berpikir keras…mencari sebuah nama* wkwkkwkwkkwkw
@ari: Tanya aja asisten 2004..hehehe.. banyak yg kayak gitu, rik.
idealisme itu dijadikan mimpi saja, yang harus digapai, tapi sambil berjalan menggapai mimpi itu, jangan dibutakan oleh idealisme itu..
@jimmy: betul sekali, pak! Sayangnya mereka terus bermimpi
om tukeran link om, medit iki
@konconebudi: Woo.. iyo..iyo.. fakir backlink iki