Yees..Pak Kumis menang Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung), Meskipun yang sebenarnya menang adalah Golput karena suara Golput lebih banyak dari suara kedua kandidat ini hehehe… Mungkin yang menarik disini adalah hasil Quick Count yang semuanya menyatakan Bu Nyai Khofifah itu menang. Pantas saja Bu Nyai bermuram durja dan kusut mukanya pas tahu kalah. Langsung tancap gas lapor ke Mahkamah Konstitusi bahkan kabarnya ke Dewan HAM PBB dengan tuduhan adanya kecurangan.
Bagi saya ini adalah pelajaran tersendiri, yaitu
- Hasil Quick Count itu belum tentu bisa jadi patokan. Karena hasilnya adalah sampel dari TPS yang ada. Jadi bukan merupakan suatu hasil yang bisa dianggap legitimate!.
- Hasil dari QC juga menunjukkan margin error 1- 2%, artinya masing-masing pasangan bisa unggul 1% atau juga bisa kalah 1% dari persentase yang dihasilkan Quick Count. Nah inilah yang tidak bisa diterima oleh orang awam. Padahal di semua Quick Count selisih selisih kedua pasangan ini tidak sampai 2%. Nah ditambah margin error tadi maka kemungkinan kondisi berbalik masih sangat mungkin saat penghitungan di KPUD Jatim.
- Laporan Kecurangan justru dilaporkan sesudah hasil penghitungan KPUD Jatim selesai. Tidak hanya ke lembaga nasional kita tapi bahkan sampai ke PBB.
Ironis jika yang kalah tidak mau legowo untuk mengakui kekalahannya. Kekecewaan atas proses demokrasi secara langsung yang sangat menguras dana hingga ber-milyar-milyar ini bisa menyebabkan kekacauan di rakyat bawah. Membuka aib saudara sendiri hingga sampai ke luar negeri, memperlihatkan bahwa tidak lagi mempercayai supremasi hukum di negeri sendiri.
Tidak ada lagi senyum di wajah Bu Nyai! Yang ada wajah nyaprut dan aura wajah gelap..hehehe
pak Kumis.. tambah ngganteng ae sampeyan, pak…wakakak…







wes podo gak genahe, poster-e pak kumis iku udah dari 2 taon lalu beredar di mana-mana, bikin lomba2 walau hanya sekedar “pak dhe” cup .. hihihi.. promosi “pak dhe” terselubung, gak tau neh balikin modalnye gimane, semoga gak gerus APBD
Aku bahas quick countnya aja dech,

Sebenarnya dulu, sebelum ada quick count gini seharusnya perlu adanya sosialisasi dulu apa itu quick count, metodenya sampai dampaknya nanti. Nggak seperti skr seolah2 quick count itu pasti bener, Tul nggak Pak guru
NB: apalagi klo musuhe sing kalah gak trimo dan legowo, tambah ruwet ae
emboh wis
@konconebudi: Lek pake APBD yo ojo, tapi kalau terbukti aku pasti kecewa nyoblos Pakdhe
@Toga: Benul! Makanya edukasi demokrasi itu sangat perlu. Rakyat bawah itu tahunya manut sama pimpinan partai thok. Ngalor ngidul koyok dicucuk irunge.
saya “cinta” ma pakdhe.bukan karena visi dan misinya tapi saya suka nyoblos liat dari fotonya ajah,fotogenic ato gag.kalo saya liat2 seh KARSA pling fotogenic,apalagi brengos 3cm pakde karwo dengan senyum 3cm GUS PUL..hem cucok deh
sebelum hasil diputuskan Pak Kumis aja dengan legowo mengatakan “Kalo saya Kalah ya akan saya terima dengan lapang DADA” tp kenapa sikap itu tidak dimiliki Oleh “Bu Nyai” ?? durung dadi gubernur ae wes ga gelem ngalah opo maneh lek wes dadi…. arep dadi opo Jawa Timur…
Hidup Pak Kumis, TOLAK PEMILIAN ULANG!!!
sekali-kali wanita gubernurnya dunk!
kebanyakan yang korup kan pria!!!!
Semoga aja berakhir dgn damai, tp kayaknya pihak yg satu msh blum ikhlas deh.
@mukti: Wanita tetap punya keterbatasan dibanding laki-laki, mas. Masalah korupsi itu tergantung orangnya, tidak tergantung gendernya
@Shugoshin: Biarin lah gak puas.. hehehe