Adsense dan Garis Tangan

Beberapat waktu lalu saat saya mampir di JISPortal, saya melihat sekilas guyonan khas KangKenyot yang sering mengulang kaitan garis tangan dengan keberhasilan dalam SEO dan Online Earning. Sebelumnya saya menganggap itu hal biasa, guyonan saja.

Hingga akhirnya saya flashback beberapa bulan sebelumnya. Saya dulu juga sempat berpikiran seperti itu, mungkin saya sedang beruntung dengan situs-situs saya. Bagaimana tidak, web dengan minim backlink bisa ranking 1 untuk jumlah kompetitor jutaan atau minimal masuk 10 besar lah. Submit social bookmarking, submit directory dan sebagainya itu nggak ada yang saya lakukan :mrgreen: . Kalaupun ada backlink, bisa dihitung dengan jari tangan saya.
Continue Reading…

Mereka yang Sukses Mendapatkan Uang dari Blog

kasihan mas Cosa, dibilang penghasilannya 5000 dolar/bulan.. harusnya kan lebih tuh :d

Dari media bernama blog, ribuan dolar bisa diraup. Salah satu syaratnya, blog tersebut sudah diakui kualitasnya, banyak pengunjung, dan menarik minat pemasang iklan.

AGUNG PUTU I., Jakarta

CARA utama mendapat uang dari blog adalah menggaet pemasang iklan. Para pengiklan akan tergiur memasang iklan apabila pengunjung blog-nya banyak. Cosa Aranda, seorang blogger yang kerap dijuluki blogger jutawan mengatakan, paling tidak ada dua macam iklan blog. ”Pertama Pay per click (PPC) dan yang kedua Pay per impression (PPI),” kata blogger asal Surabaya itu saat menjadi pembicara pada BNCC National IT Talk Show (BITS) bertema Menguak Kisah Sukses Para Blogger Indonesia, Selasa (12/5) lalu.
Continue Reading…

Lebih Mudah Keluarnya Daripada Masuknya

Saat maen-maen di Fesbuk tadi, iseng-iseng liat foto seorang kawan yang sedang hang out di kafe makan-makan dengan koleganya. Sebenarnya bukan masalah bagi saya hal itu hehehe.. tapi saya jadi teringat begitu mudahnya membelanjakan uang yang kita miliki.

Padahal jika kita tahu betapa sulitnya mencari uang saat ini, kita tidak akan begitu mudahnya mengeluarkan uang itu. Masih ada banyak agenda di masa depan yang harus kita lalui dan tentu membutuhkan uang. Biaya kuliah, biaya skripsi, biaya wisuda, biaya beli baju kerja, biaya transport ke kantor, biaya makan sehari-hari, biaya nikah, biaya ngisi rumah, biaya persalinan.. de el el.. masih banyak kan.

Jika kita tidak mampu mengatur keuangan kita, maka uang tidak akan pernah kita rasakan keberadaannya di dompet kita. Termasuk saya sendiri, saya sebenarnya tidak suka menerima duit cash yang nantinya saya masukkan ke dompet. Karena otomatis uang itu akan dengan mudah “menghilang” tanpa saya bisa mengingat kemana saja “hilang”-nya.

Jika uang kita banyak jangan boros, apalagi kalau uang pas-pasan. Nggak usah pedulikan ajakan teman-teman makan di kafe, kecuali anda bisa memastikan kalau itu acara traktiran hahaha.. .

Just nyurhat

Hilangnya Manfaat Koperasi

Sejak SD saya sudah mengenal Koperasi dari KUD, Koperasi Nelayan, Koperasi Guru sampai Koperasi Simpan Pinjam. Tapi akhir-akhir ini Koperasi yang terakhir ini yang lebih banyak dibanding yang lainnya. Anda bisa lihat disana-sini ada banyak KSP dengan nama yang bermacam-macam.

Kalau mau dilihat lebih dekat, apa sih kerjaan dari Koperasi jenis ini. Sejatinya dalam bentuk Koperasi ada anggota yang menyimpan maka ada juga anggota yang meminjam. Lalu kalau ada keuntungan dari Koperasi akan dibagikan ke semua anggota. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, lebih mirip Rentenir terselubung.

Debt Collector-nya kalau menagih pakai kartu yang diisi kalau debitor (yang ngutang) mau bayar. Terkadang Debt Collector minta biaya penagihan di luar cicilan utang :evil: . Ya, ini mengingatkan saya saat ibu saya dagang di pasar. Banyak rentenir yang melakukan hal ini bagi pedagang yang kekurangan modal.

Lalu dimanakah semangat Koperasinya?  Semangat untuk membangun ekonomi kerakyatan sudah hilang.

Bahkan tak jarang saya lihat di depan Koperasi seperti itu terparkir mobil-mobil bagus kayak CRV atau minimal Kijang kapsul. Kalau tiap hari parkir disana, ya mungkin itu bos-nya atau pemodalnya.. Jadi yang Koperasi Simpan Pinjam lebih ke arah mencari keuntungan bukan lagi bertujuan menggerakkan ekonomi rakyat yang sudah semakin terjepit masalah.

Saya sendiri berharap Koperasi bisa seperti dulu menjadi soko guru ekonomi yang bisa berdaya guna dan bisa bermanfaat lebih. Bukan sekedar sebagai tempat ngutang lalu bayar dengan bunga yang jelas itu riba kalau memang dijadikan tujuan bisnis.

|