Saya punya impian, dan saya ingin tidak hanya bermimpi. Saya ingin beraksi dan bisa jadi Milyader. Mungkinkah? Pasti MUNGKIN!
Saya belajar banyak dari semua teman, termasuk dari teman saya yang senang MLM tadi. Bahwa kita harus bisa memotivasi diri kita untuk bisa melakukan impian kita. Alam bawah sadar kita akan terbimbing untuk berpikir positif sekalipun kita mendapati apa yang kita lakukan menemui kegagalan.
Untuk itu saya sendiri belajar dari banyak Motivator. Tentunya saya tidak bisa mengikuti training motivasi yang selain harga tiketnya mahal juga lokasinya yang tidak bisa saya jangkau. Saya memiliki sumber motivasi sendiri dari Tung Desem Waringin dan Mario Teguh.
Dari Tung Desem Waringin, kita diajari cara untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki untuk menjadi Milyader. Beliau pernah bercerita temannya bisa mengubah tanah yang harganya hanya 1,5 M bisa diubah menjadi berharga 25 M dalam 6 bulan TANPA MODAL!. Ceritanya bukan tidak mungkin kita lakukan. Tapi mungkin kita takut tidak bisa melakukannya. Cara mengatasi Ketakutan seperti ini yang saya kemudian cari formulanya.
Akhirnya saya ketemu dengan Motivator pak Mario Teguh tadi malam. Di acara Golden Ways Mario Teguh di MetroTV, dalam topik Don’t Worry Be Happy dijelaskan bahwa kita harus tetap optimis dengan segala permasalahan kita. Terus terang saya tidak bisa menjelaskan secara panjang lebar, karena saya sendiri juga lupa. Tapi saat menyaksikan acara itu, motivasi saya menjadi menyala kembali. Yang saya ingat adalah saat ada audience yang bertanya, Lebih penting manakah Ketepatan ataukah Kecepatan dalam bertindak?
Dengan singkat pak Mario mengulas singkatnya seperti ini, Semakin cepat kita bertindak, Semakin cepat kita salah, Semakin cepat kita mengevaluasi tindakan kita. Belajarlah sambil bertindak, jangan belajar sebelum bertindak.
Bagi saya ini motivasi bagi saya, karena terus terang saya setiap akan berinvestasi di bisnis offline selalu dirundung ketakutan ini itu. Tapi saya yakin, kegagalan bukanlah pintu kehancuran. Kegagalan harus bisa dimaknai sebagai fungsi evaluasi diri kita.
Ibarat sebuah Per/pegas, dia tidak akan ada gunanya jika tidak ditekan. Begitu juga manusia, ketika kita semakin ditekan atau stres, kita harus bisa memberikan energi tolak yang sama besarnya dengan tekanan tersebut. Dan manusia yang tanpa stres, tidak akan berarti apa-apa untuk sekitarnya.



