Uji Narsis

Saya pernah lihat film, intinya menceritakan seorang loser yang akhirnya jadi superhero. Di segala bidang dia kalah, istrinya selingkuh sama teman kerjanya, pekerjaannya salah terus, keluar dari taksi nginjek tai kucing..pokoknya seapes-apesnya orang deh. Lalu yang menarik, dia nyoba nyari namanya dia di search engine dan ternyata … HAHAHAHA… search not found!

Saya sendiri mencoba nyari nama saya di Google, dan hasilnya :

Uji Narsis

Sudah nyoba nyari nama anda di Google? hehehe…

Jangan Asal Forward E-Mail!

Kalau anda punya kebiasaan melakukan forward e-mail dari orang lain, sebaiknya anda harus waspada. Apalagi E-mail tersebut berisikan rumor tanpa disertai bukti dan fakta. Seperti kasus broker Bahana Securities yang ditangkap karena memforward email orang lain yang menyebabkan kegemparan di dunia perbankan Indonesia karena berisi rumor kesulitan likuiditas dari 4 bank yang tersebut di email tersebut.

Baca di Detik

Lain kali jangan asal forward ya!

Maling Teriak Maling

PDI-P
Sebenarnya spanduk seperti ini sudah beredar sejak Agustus 2008 di Pare dan mungkin di kota lainnya. Saat pertama melihat spanduk ini rasanya geli. Karena PDI-P adalah Partai yang paling banyak melakukan tindakan pidana yang sering mencoreng nama partainya sendiri. Inget Kasus pak Emir Muis dan sekretaris pribadinya yang lupa gak dijatah :mrgreen: ? Ingat pula kasus Pak Agus Condro yang korupsi berjamaah dengan anggota dewan lainnya? dan anggota partai PDI-P lainnya yang juga berkasus tak jauh berbeda tapi yang paling banyak memang korupsi!

Lucu kan, Partai yang sering kena korupsi malah menyarankan untuk tidak mewarisi anak cucu dengan budaya korupsi! Lalu apa yang mereka contohkan selama ini?

Ini blog saya, suka-suka saya nulis apa. Kalau ada pihak yang nggak suka dengan postingan saya ini, silakan buat postingan sendiri :mrgreen:

Pak Kumis Menang, Bu Nyai Lapor PBB

Yees..Pak Kumis menang Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung), Meskipun yang sebenarnya menang adalah Golput karena suara Golput lebih banyak dari suara kedua kandidat ini hehehe… Mungkin yang menarik disini adalah hasil Quick Count yang semuanya menyatakan Bu Nyai Khofifah itu menang. Pantas saja Bu Nyai bermuram durja dan kusut mukanya pas tahu kalah. Langsung tancap gas lapor ke Mahkamah Konstitusi bahkan kabarnya ke Dewan HAM PBB dengan tuduhan adanya kecurangan.

Bagi saya ini adalah pelajaran tersendiri, yaitu

  1. Hasil Quick Count itu belum tentu bisa jadi patokan. Karena hasilnya adalah sampel dari TPS yang ada. Jadi bukan merupakan suatu hasil yang bisa dianggap legitimate!.
  2. Hasil dari QC juga menunjukkan margin error 1- 2%, artinya masing-masing pasangan bisa unggul 1% atau juga bisa kalah 1% dari persentase yang dihasilkan Quick Count. Nah inilah yang tidak bisa diterima oleh orang awam. Padahal di semua Quick Count selisih selisih kedua pasangan ini tidak sampai 2%. Nah ditambah margin error tadi maka kemungkinan kondisi berbalik masih sangat mungkin saat penghitungan di KPUD Jatim.
  3. Laporan Kecurangan justru dilaporkan sesudah hasil penghitungan KPUD Jatim selesai. Tidak hanya ke lembaga nasional kita tapi bahkan sampai ke PBB.

Ironis jika yang kalah tidak mau legowo untuk mengakui kekalahannya. Kekecewaan atas proses demokrasi secara langsung yang sangat menguras dana hingga ber-milyar-milyar ini bisa menyebabkan kekacauan di rakyat bawah. Membuka aib saudara sendiri hingga sampai ke luar negeri, memperlihatkan bahwa tidak lagi mempercayai supremasi hukum di negeri sendiri.

Tidak ada lagi senyum di wajah Bu Nyai! Yang ada wajah nyaprut dan aura wajah gelap..hehehe
pak Kumis.. tambah ngganteng ae sampeyan, pak…wakakak…

Idealisme dan Realita

Beberapa hari yang lalu saya dicritani sama seorang teman di YM (sensor :mrgreen: ) yang mengeluh karena template buatannya yang sudah dibuat sedemikian bagus ternyata tidak cocok di mata klien. Kliennya malah minta template yang menurut dia dan saya jauh dari bagus dan layoutnya bisa dibilang amburadul dan jadul..hehehe..

Bagi seorang developer tentu hal yang paling mengesalkan adalah apabila aplikasi yang kita buat ternyata tidak cocok dengan selera konsumen padahal maunya kita ngasih ide dan konsep yang bagus, ternyata ekspektasi dari klien malah lebih rendah dari perkiraan kita. Sebagai developer tentunya kita nggak rela jika hasil karya kita dianggap kalah bagus dari konsep lain yang menurut kita lebih rendah kualitasnya.

Itulah Idealisme

Sementara di dunia nyata ini, kita tidak sendiri. Kita tidak bisa hanya mengikuti selera kita sendiri. Sama seperti saat kita membuat web, tentunya kita harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar luas. Jangan hanya mementingkan selera pribadi. Karena web tanpa pengunjung tidak ada artinya, dan gimana mau berkunjung kalau pengunjung tidak menemukan yang dicarinya di web anda :-)

Itulah Realita

Idealisme terkadang harus kita korbankan untuk menyesuaikan dengan Realita, karena jika tetep keukeuh dengan Idealisme kita maka Insya Allah dapur kita tidak akan ngebul..hehehe.. Apalagi Idealisme itu berkaitan dengan pekerjaan.

Kemudian saya juga teringat dengan teman-teman Alumni STT Telkom yang punya idealisme bisa dibilang sangat keterlaluan. Mereka tidak mau kerja kalau tidak di Telkom dan Telkomsel!!! Bagi saya idealisme seperti itu tentu sangat tidak rasional. Mereka hanya terkungkung pada pemikiran tertentu dan tidak mengembangkan pikirannya untuk kemungkinan lainnya. Alhasil banyak alumni seperti itu yang masih nganggur, padahal pilihan pekerjaan di bidang telco saat ini sudah sedikit dibanding waktu saya lulus kuliah. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa yang ingin masuk perusahaan besar sekelas Telkom tidak hanya dia tapi mungkin ada ribuan pengangguran lainnya yang juga berpikiran yang sama. Ya! Idealisme kadang bisa melupakan Realita.

Karena itu pilihan ada pada diri kita. Terkadang Idealisme harus tetap kita miliki, tetapi untuk kasus lain maka kita harus menyesuaikan dengan Realita.

CS Harusnya Tahu Semuanya

Siang tadi saat pameran di SMA, saya iseng-iseng muter pameran sambil nunggu waktu saya untuk presentasi E-learning. Akhirnya saya iseng aja mampir ke stan Telkomsel. Setelah berbasa-basi ria nanya produk dan segala macamnya, saya mengarahkan pembicaraan ke Telkomsel Flash. Berikut pembicaraan saya..

Saya: Mas, Telkomflash yang unlimited masih ada nggak?
CS: Tahu dari mana, pak?
Saya: Dari internet, mas
CS: Masih, pak. Nanti bisa daftar disini (saya udah seneng gitu)

Saya: Syaratnya apa saja?
CS: Fotokopi KTP dan Materai saja, pak

Saya: Itu berapa per-bulannya?
CS: 250 ribu, pak

Saya : (mulai bingung) Itu yang unlimited kan?
CS: Iya, pak. Nanti bisa dipakai 500 MB selebihnya nanti Rp. 1/KB

Saya: (baru menyadari sang CS salah ngerti? dan nafsu ngobrol saya jadi berkurang) Oke deh, mas. nanti saya ke Gerai Halo Pare saja buat nanya-nanya.. (sambil melempar senyum yang nggak penting :mrgreen: )
CS: Iya, pak..

Dalam hati saya mbatin, harusnya para frontliner seperti CS tadi sudah dibekali dengan knowledge mengenai produk yang dimiliki oleh perusahaannya. Mungkin karena Pare ini terbilang ndeso katrok ya, jadi mereka tidak mengetahui sejauh mana knowledge orang-orang seperti saya ini yang makan minum ditemani internet..(halah..berlebihan :mrgreen: ).

Jangankan CS tadi, calon istri saya saja kadang-kadang masih nanya produk Indosat ke saya karena baru tahu dari customernya…hehehe.. Woalah..

Anak Pintar Harusnya Masuk IPS

Kenapa begitu? mari kita lihat dulu dari kita sendiri. IPA atau ilmu eksak sering diibaratkan sebagai ilmu yang hanya bisa dikuasi oleh orang pintar/pandai. Orang tua sendiri lebih menyukai anaknya masuk ke IPA karena mereka memiliki anggapan anak yang masuk IPA adalah anak pintar dibanding anak lain yang masuk ke jurusan IPS atau Bahasa sekalipun. Jadi orang tua pasti bangga anaknya masuk IPA.

Lalu kemudian kita lihat setelah lulus dari jurusan IPA, jurusan apa yang dipilih oleh anak tersebut? paling kalau tidak Teknik ya Dokter atau mentoknya jurusan MIPA lainnya :mrgreen: . Setelah lulus mereka jadi pekerja kantoran.

Kenapa anak pintar tidak memilih IPS? justru dari sini sebenarnya kita bisa memiliki calon pemimpin bangsa. Dari jurusan IPS ini harusnya bisa keluar politikus, ahli tata negara dan ekonom yang nanti bisa membawa bangsa ini ke arah kemajuan (semoga!). Tapi sayangnya jurusan ini tidak favorit di mata siswa maupun orang tuanya sendiri.

Karena itu jangan meremehkan jurusan IPS dulu :-)

Kecapean

Sampai saya posting ini, saya masih mengantuk dan berada di lab komputer. Kemarin itu ceritanya saya awal mengikuti kegiatan tengah semester di SMA 1, paginya jalan santai keliling Pare, jam 10 ngajar blog sampai jam setengah 5…huhuhu.. capeeek boooo..!!

Tapi ya puas, ada dari ilmu saya yang bisa berguna bagi orang lain. Nge-blog itu juga bisa digunakan untuk pendidikan, dan memang sedang saya arahkan kesana. Malu sama siswa lah, siswanya udah pinter bikin blog tapi gurunya email aja gak punya :mrgreen:

Besok saya harus stand by lagi dari pagi untuk peresmian Digilib dan Elearning, semoga saja koneksi Speedy enggak bermasalah lagi pas demo di hadapan Guru dan pejabat DikNas Kediri. Masalah skenario dibahas sore ini saat Gladi Bersih. Ah rasanya sudah lama sekali saya tidak merasakan rasa capek seperti ini. Biasanya saya hanya tenguk-tenguk di depan laptop kalau bosen ya udah main PS, ngantuk tidur, laper makan aja di meja makan.

Anda capek? sama.. kalau enggak? ya semoga tidak mengeluh saja.

Lelah Mengajar

Setelah 2 minggu saya jadi Guru Tamu rasanya saya merasakan beratnya menjadi guru (jika memang benar-benar mengajar). Saya harus mengajari siswa didik saya sampai benar-benar ngerti dengan pelajaran saya. Mungkin sampeyan-sampeyan bisa bilang, ah nge-blog kuwi gampang.. iyo sampeyan!. Tapi buat siswa didik yang notabene dalam tahap belajar tentunya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tersendiri apalagi anak SMA yang terkenal clometan.

Saya sendiri sudah menerapkan 2 metode pembelajaran, 1 lewat video 3gp dan 1 lewat tutorial web via elearning. Hasilnya? Nggak ada yang kepake blas.. hehehe.. Masalah utamanya ada di koneksi internet sekolah yang hanya 1 line Speedy yang dipakai berjamaah untuk 40 komputer. Kebayang nggak lemotnya? ya sama lah kayak GPRS gitu..hehehe.. Jadinya langkah-langkah kerja yang sudah saya buat sedemikian detail harus saya skip berulang-ulang.

Misalnya untuk login wordpress.com yang harusnya lewat wordpress.com saya skip langsung saja buka alamat blog-nya masing-masing + wp-admin. Daripada nge-load wordpress.com yang berat. Saya juga matikan semua image view-nya biar koneksinya lebih mendingan.

Saya memang sudah lama tidak merasakan koneksi siput..hihihi.. narsis abis! Jadi saat dihadapkan dengan koneksi yang lemot seperti pelajaran kemarin tentu saja saya harus memutar otak. Pfiiuuuh..

Karena hal itu pula yang membuat saya keluar tenaga ekstra, tidak hanya untuk menerangkan materi tapi juga asistensi saat koneksinya lemot..haduuuh.. muter-muter sampe kaki saya pegel. Alhasil saya untuk waktu dekat ini tidak mau mengajar dulu, daripada saya capek sendiri.

Minggu ini saya jadi pemateri untuk mengajar bapak ibu guru untuk belajar nge-blog. Masalahnya saya lupa untuk meminta syarat semua guru harus punya email sebelum bisa nge-blog (untuk verifikasi) , kalau sampai besok ada yang nggak punya email itu yang akan membuat saya semakin bingung… :sad:

BTW mau coblosan Gubernur. Nyoblos pak Kumis dulu deh.. hehehe

Adhyaksa Dault, Menteri Favoritku

menpora2.JPG Adhyaksa Dault, ya inilah sosok Menteri yang saya kagumi. Dengan gaya-nya yang serius tapi tetap bisa membaur dengan pemikiran dan semangat anak muda. Beliau ini terlihat selalu semangat dalam mengikuti semua kegiatan olahraga serta tidak lupa selalu aktif memberikan semangat bagi para atlet.

Sayangnya, pak Menpora ini tidak bisa ikut campur dalam organisasi seperti PSSI. Kalau saja bisa di-intervensi, pasti Ketua Umum Nurdin Halid sudah dipecat. Sayangnya itu tidak bisa dengan mudah dilakukan karena akan bertentangan dengan aturan FIFA. Tapi bagaimanapun perhatian serta semangat Menteri Pemuda dan Olahraga kita ini sangat saya kagumi dan saya acungkan 2 jempol saya buat beliau.

Semoga Menegpora kita selanjutnya juga sama seperti ini! Amin.
Jaya Terus Pemuda Indonesia! Kobarkan Terus Semangatmu! Majulah Negeriku!

Artikel ini dibuat untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008